Cinta dan Harapan: Mengambil Pelajaran dari Puisi Maulana Rumi
Allah SWT hanya memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya. Ujian akan selalu ada untuk setiap hamba-Nya, ujian yang diberikan tidak akan melebihi kemampuan hamba-Nya dan ujian yang menerpa dalah jalan menuju Allah SWT. Dalam puisinya Rumi seperti ini (suara gendrang membahana di udara, hentakannya adalah jantungku//Suara dalam iramanya berkata,”aku tau kau lelah, tapi kemarilah inilah jalannya”). Kita kadang merasa menderita dan merana dengan ujian yang diberikan oleh Allah SWT, kata Rumi Tuhan pun tahu kita lelah tapi tetap hadapi dan berjalanlah karena itu jalan menuju diri-Nya. Luka yang kita alami adalah kandil yang akan menerangi perjalanan kita.

Allah SWT akan mengganti semua yang hilang darimu dalam bentuk yang lain. Segala yang ada pada diri kita hakikatnya adalah milik Allah SWT, kita hanya dititipi namun dengan maha baiknya Allah SWT ketika Dia mengambil kembali milik-Nya maka akan diganti dalam bentuk yang lain. Dalam puisinya Rumi seperti ini (Janganlah sedih, semua yang hilang darimu akan datang kembali dalam bentuk yang lain). Dalam pepatah jadilah seperti tukang parkir ketika dititipi harta berupa kendaraan ia akan amanah dan ketika diambil kembali oleh pemiliknya ia ikhlas, karena ia sadar apa yang dititipkan padanya adalah berupa titipan belaka bukan menjadi miliknya.
Bantulah siapapun tanpa pamrih karena itulah jalan menuju Tuhan. Harta yang dititipkan oleh Allah SWT kepada kita dapat kita gunakan dengan leluasa, tapi dalam harta itu ada sebagian hak orang lain maka bantulah orang lain tanpa pamrih. Kita harus mengingat nasihat sebelumnya bahwa apa yang hilang dari kita akan datang kembali dalam bentuk lain. Rumi dalam hal ini kembali menasihati dalam bentuk puisinya yang begini (Jadilah teman yang penolong dan kau akan menjadi pohon hijau yang terus berbuah, terus melakukan perjalanan lebih jauh kedalam cinta). Memberi harta kita tidak akan mengurangi jumlahnya karena akan Allah SWT lipat-gandakan, memberi tanpa pamrih akan menumbuhkan cinta yang subur karena hakikat cinta adalah memberi tanpa harap kembali. Ikhlas lah saja, puncak dari cinta adalah ikhlas.
Baca juga: Langkah-langkah perjalanan menuju Tuhan
Dunia itu bagai penjara namun jalan menuju Tuhan terbuka lebar. Dunia di dalamnya hanya main-main, senda-gurau dan tipuan seperti yang telah disebutkan dalam firman Tuhan suroh Al-Ankabut ayat 64. Dunia itu tipuan dan kita terpenjara di dalamnya, kita tidak menyadari secara batin bahwa dunia tipuan karena kita terus saja terperangkap di dalamnya. Kita tidak menyadari jalan yang terbuka lebar dan penuh kebebasan adalah jalan menuju Tuhan. Rumi menasehati kita dalam puisinya (Kosongkan kecemasan pikirkan siapa yang menciptakan pikiran//mengapa kau terus terpenjara saat pintu terbuka lebar?).
Dikisahkan ada seorang sufi yang rumahnya didatangi oleh seorang tamu dan diapati rumah sufi itu tanpa perabotan, kemudian tamu itu bertanya kepada sang sufi dimana perabotan dan hartamu? –karena merasa aneh rumah yang ditinggali tapi tidak ada perabotan maupun harta- dijawab oleh sang sufi dengan balik bertanya “mana harta anda?” kemudian si tamu menjawab “saya adalah tamu bagaimana mungkin saya punya harta dirumahmu?” kemudian sang sufi menjawab “begitu pula saya hanya tamu di rumah Allah ini”. Mari kita fikirkan perbincangan antara sufi dan sang tamu, sang sufi mengajak kita untuk sadar bahwa kita tidak memiliki apapun di dunia ini.
Baca juga: Hamba Amatir, Pemohon Syafa'at Nabi
Allah SWT itu dekat dan bersama kita. Biasnya ketika kita dirundung kesedihan maupun luka kita akan lebih sering berdoa dan mendekat kepada Allah SWT, maka dari itu Rumi mengatakan bahwa luka adalah rahmat dan kandil dalam hati kita. Ketika kita sering beribadah maka Tuhan akan senang dan lebih mendekat kepada kita, Rumi dalam potongan syairnya mengatakan (Saat aku bersamamu segalanya menjadi doa) artinya ketika kita beribadah berarti kita sedang bersama Allah SWT dan kita akan lebih sering berdoa atau meminta.
Ketahuilah teman, bahwa Allah SWT senang dengan doa-doa kita karena itulah sepatutnya kita harus senantiasa berdoa dengan penuh kehambaan. Dan dengan seringnya beribadah kita akan menjadi kekasih-Nya maka Allah SWT akan menjadi tangan, mata, hidung bahkan kaki kita –jangan diartikan secara tekstual- Allah akan menjaga segala tingkah-laku kita agar senantiasa dalam jalan keridhoan-Nya.
No comments:
Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya