Langkah-langkah perjalanan menuju Tuhan

Pengetahuan mengenai Tuhan adalah transensden. Transenden berarti diluar jangkauan manusia baik akal maupun panca indranya, akan sangat sulit memahami Tuhan hanya dengan keterbatasan akal dan panca indra kita. Pengetahuan mengenai Tuhan adalah dengan menggunakan intuisi yang tentu sulit dibuktikan secara logika. Memahami Tuhan itu sulit secara logika jika mengenai Zat-Nya, maka Tuhan menyarankan kita untuk memikirkan ciptaan-ciptaannya, maka untuk menjelaskan zat Tuhan cukup dengan kata “TIDAK” (penyangkalan) terhadap sesuatu apapun yang disematkan pada-Nya, karena Tuhan bersifat laisa kamitslihi syaiun berbeda dengan makhluknya.

Pada sejarah islam Indonesia dikenal seorang wali bernama Syekh Siti Jenar yang dikafirkan oleh para wali karena pernyataannya “manunggaling kawula gusti” menyatu dengan Tuhan. Beliau dibunuh oleh Sunan Kalijaga karena dikhawatirkan akan merusak akidah masyarakat islam pada saat itu yang baru mengenal islam. Sama halnya dengan para filsuf muslim dunia seperti ibnu rusyd yang dikafirkan oleh imam al-ghazali karena mengutarakan pernyataan tentang Tuhan yang diluar nalar. Padahal bisa jadi pendapat para ‘alim itu sebenarnya tidak ada yang salah, hanya dalam sudut pandang berbeda saja. Misalnya imam al-ghazali melihat Tuhan dalam sifatnya (tajalli) dan ibnu rusyd melihat Tuhan dalam zat-Nya.


Cara mengenal Tuhan adalah dengan mengenal dirimu sendiri. Dikatakan oleh Rumi begini man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu, siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya. Mengenal diri sendiri itu berarti sadar atas diri sendiri, sadar bahwa diri adalah seorang hamba bukan Tuhan. Teori tersebut seperti mudah, menyadari diri sendiri sebagai seorang hamba itu sangat sulit dalam pengaplikasiannya. Karena kita masih dalam terbelenggu oleh nafsu yang tidak bisa kita kendalikan. Posisinya terbalik bukan kita yang mengendalikan nafsu melainkan kita yang dikenadalikan oleh nafsu.

Mengenal diri sendiri itu dimulai dari pengendalian jiwa. jiwa dikuasai oleh 3 hal yaitu: kepala, hati dan perut. Kuasai 3 hal itu maka kita akan mudah mengendalikan jiwa dan lebih mudah untuk menuju Tuhan. Puncaknya kenikmatan fikiran adalah tenang, maka aturlah kepala-mu dan tenangkan fikiranmu yakinkan dengan kebenaran-kebenaran hingga kamu tercerahkan. Caranya dengan tafakur dan bermuhasabah diri.

Sedangkan hati puncak kenikmatannya adalah kebebasan, hati yang bebas adalah hati yang tiada penderitaan artinya lepaskan semua keterikatanmu terhadap apapun kecuali terhadap Tuhan. Ikatan-ikatan hati yang membelenggumu itu yang membuat kamu terikat seperti rasa takut, cinta berlebihan pada makhluk, dan ketaatan berlebihan pada makhluk. Lepaskanlah belenggu itu dan dasarkan semua yang kamu lakukan atas karena cinta kepada Tuhan, maka hatimu akan bebas.

Perut adalah level paling bawah diantara hati dan kepala, puncak kenikmatannya adalah nyaman, nyaman itu tengah-tengah artinya tidak lapar tidak pula kekenyangan. Tengah-tengah dalam urusan perut akan membuatmu bahagia.


Pengetahuan dibutuhkan untuk pengendalian jiwa. Kebenaran yang baik adalah yang didasarkan pada pengetahuan, seseorang yang berpengetahuan baik maka akan berdampak pada tingkah lakunya yang baik pula. Mengendalikan jiwa untuk jalan menuju Tuhan bisa melalui 3 cara. Yang ke 1) dengan cara filsafat, lewat ajaran-ajaran moral atau kebajikan yang menghasilkan pembersihan jiwa. Jalan yang ditempuh oleh para filsuf berlandaskan dengan kebenaran yang akan menghasilkan kebijaksanaan. 

Yang ke 2) dengan cara teologi, akal digunakan untuk memahami agama. Akal untuk memahami intruksi-intruksi agama dan wahyu Tuhan. Jalan yang ditempuh oleh para sufi dengan berlandaskan cinta yang menghasilkan keindahan batin. Yang terakhir ke 3) dengan cara teorgi atau hanya ibadah saja sesuai yang dipahami dan diperintahkan. Jalan yang ditempuh dengan berlandaskan kepercayaan/keimanan menghasilkan kebaikan. Ketiganya adalah valid dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan membuat kita tercerahkan, tinggal kita memilih mana yang lebih cocok dengan kita. 


Menuju Tuhan adalah dialektika menaik seperti bentuk piramida. Tahap-tahapan untuk menuju Tuhan yang ke 1) Sadari, sadar kita ada di tipe mana dari yang telah dipaparkan di atas. Jika telah sadar selanjutnya yang ke 2) Purifikasi atau pembersihan, pembersihan dari hal-hal yang dapat mengganggu dan kontradiktif dari perjalanan menuju Tuhan. Hal tersebut misalnya handphone, laptop, pacar atau apa saja. 

Dan kemudian yang ke 3) Iluminasi atau pencerahan, setelah kita melakukan tahap yang kedua maka kita akan mendapatkan pencerahan dari Tuhan. Sebagaimana dalam keterangan jika kita mendekati Tuhan satu langkah, maka Tuhan akan mendekati kita seribu langkah. Jika kita mendekati Tuhan dengan berjalan maka Tuhan mendekati kita dengan berlari. Yang terakhir ke 4) Sempurna, maka telah tercapailah tujuan kita untuk menuju Tuhan. Kita akan menjadi manusia sejati, insan kamil yang mengenal hakekat diri.

No comments:

Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya

Powered by Blogger.