Hamba Amatir, Pemohon Syafa’at Nabi
Manusia berkedudukan sebagai hamba dan tugasnya adalah beribadah. Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah SWT dalam kitab suci-Nya (QS. Al-Dzariat: 56) Allah menciptakan manusia dan jin tidak lain untuk beribadah kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan manusia untuk beribadah bukan karena Allah SWT ingin disembah atau butuh disembah, melainkan itu sudah menjadi tujuan diciptakannya manusia dan dengan beribadah kepada Allah SWT maka Allah SWT akan semakin dekat dengan kita.
Allah SWT memerintahkan manusia (baca: sebagai makhluk-Nya) untuk beribadah itu adalah hak prerogratif Allah SWT sebagai pemilik dari manusia, tidak perlu dipertanyakan “kenapa”-nya namun sudah jelas bahwa terdapat banyak sekali manfaat yang didapat oleh manusia dengan beribadah. Contohnya dengan beribadah kita mendapatkan janji-janji Allah SWT melalui beribadah karena sesunggunhnya Allah SWT tidak pernah dan tidak akan pernah ingkar pada janji-Nya

Ibadah adalah sarana atau jalan agar dekat dengan Allah SWT. Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang selalu beribadah –meski cinta kasih Allah SWT meliputi seluruh alam semesta bahkan lebih besar lagi- karena itu menunjukkan bahwa ia seorang hamba yang taat pada perintah Allah SWT. Ibadah itu meningkat dan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.
Allah SWT maha pemurah tidak pernah memberatkan hamba-Nya untuk mendekati-Nya. Maulana Jalaluddin Rumi dalam puisinya yang berjudul “Tempuhlah Jalan Itu” ia mengajarkan kepada kita agar kita tetap beribadah tidak peduli seberapa buruk ibadah kita, dalam puisinya disebutkan jika kita hanya memiliki ilmu prasangka terhadap Tuhan maka milikilah prasangka baik terhadap Tuhan; jika kita hanya mampu merangkak maka merangkaklah. Bahkan meski doa kita tidak khusyu dan munafik tetaplah persembahkan doa kepada Tuhan, karena dengan maha pemurah dan kasih-sayangnya Allah SWT akan tetap menerima hamba-Nya yang berusaha.
Ibadah itu mendekati Allah SWT dengan datang dan datang lagi. Rumi mengajarkan –masih dalam puisi yang sama “Tempuhlah Jalan Itu”- agar kita harus tetap datang dan datang lagi untuk beribadah kepada Allah SWT meski kita telah beratus kali mengkhianati-Nya. Nabi Muhammad SAW adalah mahkluk terbaik bahkan kekasih pilihan Allah SWT yang meski sudah digelari maksum, ia tetap beribadah dan memohon pengampunan tujuh puluh sampai seratus kali dalam sehari.
Baca juga : Edukasi Obat
Dalam buku “Ratapan Kerinduan Rumi” yang pernah penulis baca, ada 2 bait doa Rasulullah SAW yang sangat menghantam hati penulis, doa tersebut demikian: Wahai Tuhanku aku tak dapat mengenal-Mu sebagaimana layaknya Engkau dikenal, aku tak dapat menyembah-Mu sebagaimana layaknya Engkau disembah. Sungguh doa yang sangat menampar hati, sekelas Nabi Muhammad SAW dangan segala kerendahan hati beliau dapat mengucapkan doa yang sangat rendah diri dihadapan Tuhan. Bagaimana dengan kita?
Allah SWT menciptakan Nabi Muhammad SAW sebagai wujud cinta-Nya kepada seluruh makhluk-Nya. Dalam hadits qudsi yang seperti ini bunyinya “laulaka-lauka ya Muhammad maa kholaqtul aflaak” jika bukan karena engkau ya Muhammad tak akan aku ciptakan alam semesta raya –dan seluruh isinya-. Dalam sebuah keterangan kitab klasik ulama disebutkan bahwa seluruh alam semesta diciptakan dari nur Muhammad.
Sehingga dikisahkan pula ketika Adam AS diciptakan Allah SWT meletakkan nur muhammad pada tulang ekornya sehingga ia selalu diikuti oleh para malaikat, Adam AS karena penasaran menanyakan hal tersebut kepada Allah SWT kemudian untuk menjawabnya oleh Allah SWT nur Muhammad dipindahkan kepada ibu-jari Adam AS karena saking terpesona dengan nur muhammad, Adam AS kemudian mengucapkan “marhaban bidzikrillahi ta’ala qurrota a’yuninabika ya Rasulullah”. Kemudian doa tersebut didawamkan oleh ummat Nahdliyyin ketika mendengar suara adzan pada bagian “Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah”, dengan pertama mencium kedua ibu-jari kemudian diusapkan kepada kedua kelopak mata sambil membaca doa tersebut.
Baca Juga: Kita Sebenarnya SAMA, Tidak Beda
Ibadah kita jauh dari kata layak tetapi Allah SWT tetap menerimanya. Seperti kata Rumi tetap persembahkan ibadah dan doa kita yang munafik itu –namun harus terus ditingkatkan- karena Allah SWT tetap menerimanya. Ibadah kita tidak menentukkan kita masuk surga atau neraka melainkan dengan kasih sayang-Nya lah kita ditempatkan di surga atau neraka. Apalagi dengan kemunafikan ibadah dan doa kita rasanya sangat malu untuk mengharapkan surga tapi kita tidak akan sanggup menahan siksa neraka.
Nabi Muhammad SAW merupakan wujud kasih sayang Allah SWT terhadap manusia terlebih ummat islam, karena nanti di akhirat Nabi Muhammad SAW diberikan anugrah oleh Allah SWT untuk memberikan syafaat kepada ummatnya. Syafaat tersebut dinamakan “syafa’atul udzma” dan untuk mendapatkan syafaat tersebut kita harus banyak bershalawat, agar nanti akhirat Rasulullah SAW dapat dengan mudah mengenali kita dan cepat disyafaati beliau. Kita tidak bisa sombong dengan ibadah kita, untuk keselamatan kita di akhirat kita dapat mengharapkan syafaat Rasulullah SAW dengan banyak bershalawat ketika masih hidup.
No comments:
Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya