Tidak tahu itu lebih baik daripada so tahu

Ibnu Rusyd (w 520 H) karakter manusia itu tidak mengetahui segala hal, pelupa dan senantiasa belajar. Manusia memang tidak mengetahui segala hal karena ilmu Allah SWT itu sangat luas, bahkan ilmu seluruh manusia itu hanya setetes dari ilmu Allah SWT yang seluas lautan. Setelah manusia menambah ilmunya bahkan manusia masih dapat lupa, seperti jika telah melakukan aktivitas belajar di kelas dengan seorang guru ketika akan diujiankan manusia mesti lupa dengan ilmu yang telah diterima dari gurunya di dalam kelas. Sehingga manusia harus membaca atau mengingat ulang pelajaran yang telah diterima dari gurunya. Manusia senantiasa belajar karena selain perintah wajib dari Allah SWT melalui hadits Nabi SAW, belajar dilalui oleh setiap manusia dalam hidupnya untuk mendapatkan ilmu baru.



Imam syafi’i (w 204 H) semakin bertambah ilmu semakin menegaskan kebodohan. Semakin ilmu bertambah maka kita akan semakin banyak tidak tahu mengenai segala hal, seperti ilmu padi semakin berisi semakin merunduk. Semakin bertambah ilmu semakin merendahkan hati. Orang yang berkata tidak tahu ketika diajukan sebuah pertanyaan sering dianggap orang bodoh, karena itu orang akan gengsi untuk berkata tidak tahu karena akan dianggap bodoh. Karena hal itu juga manusia sering berlagak so tahu mengenai berbagai hal meski tidak dalam bidang keilmuannya bahkan tidak pernah belajar.


Berkata tidak tahu berarti orang yang berhati-hati. Orang yang berkata tidak tahu bisa jadi betul-betul tidak tahu atau ia ingin menjaga akibat dari ilmu yang belum sempurna jika ia berikan. Seperti seorang kiai sering menghutang ilmu kepada para santrinya dalam hal yang belum ia ketahui atau hal yang ia sendiri lupa. Hal demikian adalah kehati-hatian agar ilmu yang akan disampaikan pada santrinya tidak dalam lingkup ketidak-tahuannya. Karena setiap ilmu yang diberikan akan menjadi pertanggung-jawaban di akhirat. Jika ilmu yang disampaikan keliru maka akan diingat oleh santrinya, kemudian santrinya akan menyampaikan ilmu yang keliru juga terhadap muridnya. Estafet ilmu keliru itu akan terus berlanjut hingga akhir zaman dan dapat menimbulkan kerusakan jika tidak dilakukan kehati-hatian dalam penyampaian ilmu.

Imam malik ra berprinsip berkata la adri “tidak tahu” pada perkara yang tidak ia ketahui. Imam malik pernah diajukan 40 pertanyaan, ia hanya menjawab 8 pertanyaan dan selebihnya ia berkata tidak tahu. Itu merupakan kehati-hatian beliau dalam ilmu yang beliau miliki. Ketika imam malik diajukan sebuah pertanyaan oleh muridnya, ia tidak menjawab dan diprotes oleh muridnya karena pertanyaan yang diajukan adalah perkara mudah. Imam malik kembali memarahi muridnya itu karena meski pertanyaannya mudah akan tetap menjadi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT dan tidak ada perkara mudah dalam hal ilmu. Tidak hanya imam malik bahkan Rasulullah SAW pun ketika diajukan sebuah pertanyaan yang tidak beliau ketahui, beliau akan diam sampai datangnya wahyu dari Allah SWT.


Para ‘alim bersifat wara dalam ilmu dan penyampaiannya. Dari paparan yang telah disampaikan di atas, dapat kita lihat bahwa seorang yang benar-benar ‘alim akan berhati-hati dalam ilmu dan penyampaiannya. Seorang yang ‘alim tidak gegabah menjawab sesuatu yang belum diketahuinya. Zaman sekarang ini marak sekali orang yang menyampaikan ilmu tidak pada bidangnya, terlebih mengenai agama. Banyak bermunculan ustadz dadakan bermodal ilmu alakadarnya berdakwah kemana-mana demi popularitas dan rupiah, dampaknya adalah para mustami’ yang terprofokasi dan mengaminkan semua yang disampaikan tanpa menyaring dan memilah. Dari orang-orang yang seperti itulah ummat dapat mudah saling menyalahkan. Untuk mendapatkan ilmu yang benar carilah ilmu dari orang-orang yang ahli dalam bidangnya, misalnya ilmu agama bertanyalah pada kiai tokoh agama yang mumpuni ilmunya.

No comments:

Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya

Powered by Blogger.