Menjadikan Keberagaman Sebagai Faktor Penguat Persaudaraan
Kejernihan hati dapat mengimplementasi rasa persaudaraan yang sejati. Persaudaraan hubungannya erat dengan sosial, sosial berarti keberagaman. Manusia makhluk sosial yang berbeda-beda dalam segala aspeknya seperti karakter, sifat, agama, suku, budaya dan lainnya. Dalam hubungan bersosial kita memerlukan kejernihan hati agar terciptanya kerukunan dalam keberagaman, kejernihan hati yang kita perlukan adalah merasa sama statusnya dengan manusia lainnya.
Manusia itu sama kedudukannya di hadapan Allah SWT yang membedakan adalah ketakwaannya “inna akromakum indallahi atqokum”, sehingga dalam hubungan sosial terciptalah rasa toleransi, tenggang rasa, simpati dan empati yang tinggi. Pada peristiwa haji wada (haji terakhir) Nabi Saw berkhutbah yang isinya sangat menyejukkan hati. Pada dakwah itu Nabi Saw mengingatkan kepada kita bahwa esensi kita adalah sama dalam status kemanusiaan, “ayyuhannas inna robbakum wahid, wa inna abakum wahid, kullukum min Adam, wa Adam min turab” (Wahai manusia sesungguhnya Tuhanmu satu, bapakmu juga satu, kalian semuanya dari Adam, dan Adam berasal dari tanah).

Allah SWT tidak menjadikan manusia itu seragam. Ketidakseragaman merupakan alamiah (sunnatullah) yang telah niscaya kepada umat manusia. Dalam firman-Nya di suroh Al-Hujurot ayat 13, Allah SWT telah menjadikan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Semua manusia itu sama kedudukannya di hadapan Allah SWT yang membedakan adalah ketakwaannya. Kemudian dalam suroh Al-Maidah ayat 48 Allah SWT telah berfirman bahwa bisa saja Allah SWT menjadikan manusia itu seragam, namun justru dengan keberagaman itulah supaya manusia berlomba-lomba dalam kebaikan.
Keberagaman merupakan salah satu kekayaan Indonesia. Kekayaan Indonesia sangat banyak selain kekayaan alam hayati dan faunanya, keberagaman suku bangsa dan agama adalah yang menonjol juga di Indonesia. Di Indonesia terdapat 6 agama resmi yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu, belum lagi ditambah agama lokal (pagan) yang masih bertahan. Semuanya hidup rukun, damai dan bebas dalam menjalankan ibadahnya masing-masing dengan nyaman.
Kekayaan keberagaman ini patut sekali kita syukuri, dan termasuk kufur nikmat jika kita menginginkan keseragaman Indonesia hanya untuk satu ummat beragama saja, karena tidak memikirkan ummat lainnya yang tentu saja turut berjuang bersama-sama dalam kemerdekaan Indonesia dahulu. Allah SWT menerima keberagaman termasuk dalam hal agama sekalipun, seperti yang telah difirmankan-Nya dalam suroh Al-Hajj ayat 40 bahwa niscaya Allah SWT dengan kemaha-perkasaan-Nya tentulah telah merobohkan tempat-tempat peribadatan ummat Nasrani dan Yahudi jika Allah SWT tidak menerima mereka. Karena kebenaran sering tampil dalam wujud yang plural meskipun kebenaran yang sesungguhnya hanya satu yang bermuara kepada Yang Maha Benar.
Tanggungjawab utama manusia di dunia adalah memperjuangkan nilai humanis. Manusia telah dilimpahkan tanggungjawab sebagai khalifah di bumi, maka selayaknya dengan itu manusia seharusnya bertanggungjawab penuh atas apa yang terjadi di bumi ini, terlebih dalam nilai humanis. Nilai humanis menjadi tanggungjawab manusia seperti ketertindasan, kemiskinan, kelaparan dan kesenjangan sosial lainnya. Nilai humanis dapat kita perjuangkan dengan menyingkirkan keegoisan, dan harus mengedepankan kepentingan bersama. Karena jika bukan kita siapa lagi? Jangan sampai karena keegoisan dan ketidakpedulian kita sehingga orang lain merasa dirugikan atas ketidakadilan yang menimpanya. Dan jangan sampai pula karena kekejaman kita terhadap sesama menimbulkan murka Allah SWT yang kita tidak dapat menanggungnya.
Keberagaman kita jadikan sebagai faktor penguat persaudaraan. Sebagaimana anatomi yang ada pada tubuh kita, kita dapat melihat karena mata, kita dapat berjalan karena kaki, kita dapat makan karena mulut. Semua yang dapat kita lakukan dengan seimbang dan benar adalah karena keberagaman yang menyatu dalam kesatuan raga kita. Bayangkan jika hanya mata saja atau kumpulan mata saja maka tidak dapat dikatakan sebagai raga. Untuk itu sama halnya dalam persaudaraan, kita dapat berjalan bersama-sama menghadapi kehidupan dengan perbedaan yang kita miliki. Keberagaman Indonesia dalam naungan pancasila dan UUD dapat menguatkan bangsa Indonesia, terlebih dalam semboyan bersama bhineka tunggal ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Itulah yang menjadi pegangan utama dan bersama bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang kuat.
No comments:
Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya