Islam Nusantara: Berislam untuk Masyarakat Multi-Kultural
Islam datang ke Nusantara dengan jalan damai. Islam pertama kali datang ke wilayah Nusantara pada abad ke 7 Masehi, dibawa oleh para pedagang dari Timur Tengah. Penyebaran islam dilakukan dengan damai dan strategi yang baik tanpa kekerasan. Diriwayatkan pula oleh sebagian para ahli sejarah bahwa Islam datang ke wilayah Nusantara awal mulanya dibawa oleh 4 negara yaitu Arab, Persia, Cina dan India (Gujarat). Di negara Indonesia yang mejemuk ini 4 negara yang menyebarkan islam di wilayah nusantara tentu juga membawa pengaruh budaya mereka kepada masyarakat Islam di Nusantara saat ini, sehingga memberi corak islam yang estetik, kaya rasa dan menjadi ciri khas Islam di Nusantara.

Islam itu ramah terhadap budaya selama tidak melenceng dan merusak akidah. Tradisi-tradisi kebudayaan yang awal mulanya dipengaruhi oleh agama paganisme, Hindu dan Budha tidak semerta-merta dihilangkan, tetapi dirubah menjadi lebih islami atau yang tidak merusak akidah namun tetap memiliki nilai tradisi budaya yang luhur. Contoh tradisi kumpul-kumpul di rumah keluarga yang meninggal dengan melekan dan minum arak, diganti dengan sambil membaca bacaan-bacaan doa untuk keselamatan mayit yang kemudian saat ini disebut tahlilan. Hal itu juga dilakukan oleh Raulullah SAW pada masyarakat Mekah, dahulu kala mengitari ka’bah sudah dilakukan oleh masyarakat Mekah pada waktu itu dengan bertelanjang sambil menyembah berhala yang ada di dalamnya. Rasulullah SAW tidak semerta-merta menghilangkan tetapi beliau mengganti dengan membersihkan berhala –pada kejadian fathu Mekah- dan mengganti ritual tersebut dengan ibadah haji dan umroh. Selain itu para sahabat juga mengadopsi ajaran, atau berbagai hal meski datang dari luar islam selama itu baik dan tidak merusak akidah.
Islam Nusantara merupakan gagasan Kyai Said Aqil Siradj untuk krisis umat islam Indonesia. Gagasan Islam Nusantara pertama kali dikeluarkan pada muktamar NU ke-33 di Jombang, Islam Nusantara dikeluarkan oleh Kyai Said sebagai solusi karena kekhawatiran Kyai Said terhadap umat Islam Indonesia saat ini. Ide Islam Nusantara dilatarbelakangi oleh beberapa faktor yaitu: 1) Krisis Arabisasi di Nusantara, karena Islam bukan berarti budaya Arab. Sebagian orang Islam cenderung salah paham dan belum bisa membedakan yang mana Islam dan yang mana budaya Arab, hal tersebut dapat menggerus nilai-nilai budaya asli Nusantara. Yang ke 2) Gagasan Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari tentang nasionalisme dengan jargon “Hubbul wathon minal iman”, mencintai negara sebagian dari Iman. Yang berarti umat beragama terlebih umat Islam harus berjiwa nasionalisme. Yang ke 3) Gagasan KH. Abdurrahman Wahid (GusDur) tentang pribumisasi Islam. Yang ke 4) Dakwah walisongo yang tetap mempertahankan budaya Nusantara dan dakwah yang ramah. Yang ke 5) Konsep ketatanegaraan Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah SAW, yang mana penduduk Madinah adalah penduduk yang majemuk (plural) baik budaya dan agamanya persis seperti negara Indonesia.
Budaya dan karakter bangsa Indonesia dinilai sudah baik, ditambah dengan datangnya Islam maka semakin sempurna. Bangsa Indonesia sebelum datangnya Islam sudah ada yang beragama Hindu, Budha dan agama pagan. Agama pagan di Indonesia juga sudah memiliki konsep bertuhan monotheisme, sehingga ketika islam datang masyarakat Nusantara dengan mudah menerima agama Islam. Karakter bangsa Indonesia yang ramah, humble, sopan, santun dan legowo lebih memudahkan dalam penyebaran agama Islam. Kyai Said dengan konsep Islam Nusantaranya ini ingin agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jati dirinya –karakter dan budayanya- ditambah dengan agama Islam maka semakin sempurna Islam yang ada di Nusantara. Dengan begitu Islam Nusantara dapat menjadi contoh berislam yang baik, ramah, toleran dan nasionalis. Dalam Islam Nusantara, agama bukan menjadi halangan untuk ber-budaya justru agama dapat disatukan dengan budaya sehingga tercipta keharmonisan dan keindahan dalam beragama.
Islam Nusantara dapat memberikan semangat nasionalisme. Dari gagasan yang dikeluarkan oleh pendiri NU Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari “Hubbul wathon minal iman” pada waktu perang antara tentara Inggris dan rakyat Surabaya, sangat memberikan semangat yang tinggi karena semangat nasionalis dilandasi oleh agama. Dengan Ide Islam Nusantara Kyai Said ingin umat Islam berjiwa nasionalis mempertahankan keutuhan negara Indonesia dengan dilandasi agama. Islam Nusantara bukan merupakan aliran islam baru apalagi sesat, Islam Nusantara merupakan gagasan dari seorang ulama NU yang peduli terhadap krisis bangsa Indonesia dan mempertahankan budaya Indonesia. Karena agama murni berasal dari Allah SWT melalui para utusan-Nya dan budaya berasal dari manusia, namun bukan berarti keduanya terpisah sama sekali. Budaya dan agama dapat disatukan dan berjalan dengan serasi selama tidak saling merusak satu sama lain.
No comments:
Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya