Islam Progresif: Solusi Islam untuk Krisis Manusia Kontemporer

Islam progresif merupakan pengkajian islam untuk menjawab kebutuhan masyarakat masa kini. Islam progresif lahir dari pemikiran cendekiawan muslim yang berorientasi terhadap kemajuan zaman dan masyarakatnya –terlebih dalam kesejahteraan masyarakatnya. Bung Karno seorang presiden Indonesia dan proklamator kemerdekaan Indonesia sangat berpandangan islam harus berkemajuan, dengan mengatakan “islam harus berani mengejar zaman, bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun islam ketinggalan zaman”. Karena zaman semakin maju dan pemikiran manusia post-modern semakin maju pula sehingga islam harus bisa memobilisasi zaman. Jangan sampai islam mengalami kemunduran zaman terlebih dengan mendemokan khilafah karena sudah tidak sesuai dengan zaman kontemporer saat ini. Dengan islam progresif nilai-nilai islam disesuaikan dengan zaman karena sifat islam itu sendiri yang dinamis, islam salih fi kulli zaman wa makan.


Islam progresif berkarakteristik kritis terhadap krisis internal dan krisis eksternal. Islam progresif merupakan kepanjangan dari islam liberal –karena pemikirannya yang intelektual pada kemajuan dan kebebasan- yang mengalami ketidakpuasan terhadap islam liberal karena dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai humanis. Islam progresif berorientasi pada kemajuan sehingga ia kritis terhadap krisis internal maupun eksternal, ia kritis terhadap pemikiran tradisi sebagian umat islam yang tidak menitikberatkan pada aspek-aspek humanis. Ia memposisiskan diri sebagai modernis namun pada saat yang bersamaan pula ia mengkritik terhadap modernitas yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan sosial.


Islam progresif lebih menitikberatkan pada nilai-nilai humanis. Islam progresif berbeda dengan islam yang lainnya karena cenderung apatis terhadap problematika masyarakat. Seperti islam fundamentalis (ektrem kanan) yang bersifat ekstrem terhadap ajarannya –tidak menyesuaikan zaman- dan sangat ambisius untuk merubah tatanan negara menjadi khilafah. Islam liberal yang ekstrem kiri cenderung memiliki pemikiran intelektual kemjuan ekstrenal –dunia barat- yang tidak memiliki perjuangan untuk perubahan sosial. Selanjutnya islam moderat yang berada di pertengahan -yang digerakan oleh dua organisasi islam besar Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah- di antara islam liberal dan islam fundamental yang mengedepankan toleransi namun mempunyai krisis ketidakmampuan untuk mendorong masyarakat mandiri dengan cara-caranya sendiri.

Sedangkan islam progresif berbeda karena berorientasi pada masyarakat membuat masyarakat menjadi mandiri berangkat dari hubungan-hubungan persaudaraan dan egaliter dalam segala aspeknya. Islam Progresif hadir secara inklusif sebagai common platform bagi aktivisme masa depan yang tidak memisahkan agama dari aktivisme, akhirat dari urusan duniawi, hati nurani dari kesadaran politik.


Progresive ijtihadists menjadi kerangka pemikiran islam progresif. Seperti telah disinggung di atas bahwa Progresive ijtihadists (Saeed: 2006) yaitu pemikiran muslim yang berupaya menafsir ulang ajaran agama (Islam) agar bisa menjawab kebutuhan masa kini. Islam progresif merupakan gerakan islam kontemporer yang mengupayakan perkembangan civil-society, demokrasi, keadilan, kesetaraan gender, kaum minoritas, kaum tertindas dan pluralitas. Islam progresif adalah bukan upaya penciptaan agama baru ajaran baru melainkan mencoba mere-interpretasi fondasi religius tradisional untuk mengakomodasi kehidupan kontemporer, terutama dalam menjawab isu-isu kehidupan muslim masa kini.

Islam progresif merupakan urgensi dari permasalahan islam kontemporer. Islam dinilai sebagai sebuah jawaban dari setiap permasalan yang ada dari zaman dahulu hingga saat ini, namun tetap harus up to date sesuai dengan zamannya. Islam tetap menjadi landasan dalam setiap pemecahan masalah namun harus dengan kesesuaian zaman sehingga dapat diterapkan dan mejadi solusi. Islam progresif bergerak pada kemajuan yang tetap memegang teguh nilai-nilai keislaman namun bukan berarti tanpa kendala karena masih dominan truth claim (klaim kebenaran) pada umat islam sendiri.

No comments:

Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya

Powered by Blogger.