Tahlilan Dan Yasinan Pada Hari-Hari Tertentu Orang Yang Sudah Meninggal
Oleh:Tomon Haryo Wirosobo
Pendahuluan
Sebagian besar umat Islam di Indonesia
masih sering melakukan tradisi tahlilan dan pembacaan surat-surat yang ada
dalam al-Qur’an pada hari-hari tertentu dengan tujuan dihadiahkan pahalanya
kepada orang yang sudah meninggal. Tradisi ini sudah dilakukan sejak agama
Islam mulai masuk ke pulau Jawa di mana pada waktu itu masyarakat Jawa masih
sangat kental dengan kepercayaan animism dan dinamisme. Pada akhirnya hasil
dari alkuturasi budaya tersebut banyak dilakukan di kalangan umat Muslim di
Indonesia. Namun seiring dengan perkembangan zaman maka tradisi tersebut banyak
menimbulkan perdebatan yang cukup ramai di media. Pertanyaannya adalah masih
relevankah tradisi dan budaya seperti itu dilakukan pada era modern ini?
Seperti yang kita ketahui bahwa budaya
merupakan cara hidup yang berkembang serta di miliki bersama oleh masyarakat
dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari berbagai unsur
yang kompleks termasuk system agama, sosial, politik, dan adat istiadat.
Menurut Prof. Kuntowijoyo agar umat Islam dapat maju maka umat Islam harus
mampu meninggalkan dunia mitos dan ideologis menuju dunia ilmiah sehingga
diperlukan pengilmuan Islam bukan Islamisasi pengetahuan.
Pembahasan
Opini yang berkembang di masyarakat dan
media sosial terkait boleh tidaknya orang melakukan pembacaan do’a dan tahlil
serta surat Yasin pada mala-malam tertentu setelah orang meninggal, misalnya 3
hari, 7 hari, dan 100 hari bahkan sampai 1 tahun dan 1000 hari dalam
memperingati kepergian orang yang meninggal pada hari hari tertentu yang
disebutkan itu maka dilaksankan acara tahlilan dan yasinan.
Secara ontologi dan epistemologi hal
ini sudah dilakukan bersamaan dengan masuknya Islam di pulau Jawa pada abad
ke-11 hingga saat ini. Tradisi tahlilan dan yasinan ini masih banyak dilakukan
oleh umat Islam khusnya di pulau Jawa. Setelah hamper 10 abad berjalan tidak
pernah ada permasalahan terkait dengan pelaksanaan tradisi tersebut. Karena
notabene tradisi itu telah menjadi adat dan busaya masyarakat. Pada zaman
modern ini muncul fenomena yang sebenarnya didasari oleh sikap sentimental
terhadap suatu agama atau aliran tertentu yang muncul dari pemikiran yang
disebut logis dan rasional.
Pada masyarakat modern munculnya
pemikiran seperti ituadalah suatu yang wajar karena masyarakat sekarang lebih
banyak bersikap kritis dan analitis serta berpola piker rasional bukan lagi
berpikir pada hal-hal yang bersifat mistis atau asumsi-asumsi yang tidak jelas
dasarnya. Sebegai konsekuensi perdebatan di masyarakat tersebut pasti
memunculkan beberapa pihak yang berbeda pendapat yang masing-masing pihak akan
mempertahankan argumentasinya sebegai dasar untuk melakukan pembenaran terhadap
apa yang dilakukan Terkait dengan hal ini maka teori yang ditawarkan oleh Prof
Kuntowijoyo tentang sosial Humnistik dan peripatetic sangat relevan untuk di
aplikasikan oleh tokoh masyarakat, akademisi, aparat pemerintah serta tokoh
agama agar masyarakat dapat lebih memahami dan mengerti tentang apa yang
dilakukan sehingga dalam tujuan pemikiran Prof. Kuntowijoyo yakni ilmu yang
salami bukan islamisasi keilmuan dengan harapan kedepanya masyarakat islam bisa
lebih maju kualitas hidupnya dan agamanya.
Tahlilan dan Yasinan Pada
Hari-Hari Tertentu Orang Yang Sudah Meninggal Dalam Presfektif Hermenenutika Budaya
C. Geertz
Lahir di San Fransisco California Tahun
1929. Lulusan universitas Harfadz
jurusan antropoly kemudian melanjutkan studi antropology di department of social relation tahun 1956
dan meraih gelar Doktor dari Advanced Studi di Primsceton Ner Jersy tahun 1970.
Kemudian memperoleh gelar Professor pada tahun 1960 an, karena pada tahun ini
beliau melakukan studi Etnografi yang menarik perhatian dari berbagai pihak
ilmuan karena kritik tajamnya terhadap masalah teoritis yang sangat penting
dalam antropologi. Beliau meninggal pada tahun 2006 dalam usian 80 tahun. Dikenal sebagai seorang ahli antropologis
interpretative atau disebut simbolis dan pernah tinggal di Indonesia untuk
membuat kajian studi dalam masalah hal budaya dan agama
Menurut C. Geertz manusia adalah
makhluk simbolicum artinya manusia sebagai makhluk simbolik dalam arti
komunikais yang dilakukan manusia selalu dekat dengan menggunakan
symbol-simbol. Di dala symbol-simbol tersebut manusia memproduksi makna-makna
tertentu yang pada akhirnya maknya yang diproduksi ini membentuk sebuah
jaringan kebudayaan.
Oleh karena itu kebudayaanmenurut C.
Gerrtz tidak hanya untuk dijelaskan melainkan untuk dipahami dan ditemukan
makna-makna yang terdapat di dalam simbol-simbol tersebut bagi C. Geertz
kebudayaan sebagai teks yang berjalan, maka untuk menangkap makna yang tekandug
di dalamnya diperlukan penafsiran serti seseorang yang melakukan penafsiran
terhadap pesan dalam sebuah teks.
Agama menurut C. Geertz adalah system
simbol yang menciptakan suasana hati dan motivasi yang kuat, meresap dan tahan
lama pada mansuia, dengan menciptakan konsepsi tentang tatanan kehidupan dan
menyelimuti onsepsi tersebut dengan aura faktualitas sehingga seolah-olah
suasana hati itu bersifat fakta dan nyata.
Simbol dalam agama bisa berupa objek
fisik, misalnya masjid, bisa juda dalam bentuk tindakan misalnya berbicara,
berjalan, dan lain sebagainya, bisa juga berbentuk dalam suatu peristiwa
misalnya hijrah Nabi. Simbol sebagai peran yang menyampaikan pesan kepada
manusia selain itu simbol juga mempengaruhi dalam bentuk prilaku manusia. .
Tradisi pembacaan do’a dan tahlil serta
surat Yasin pada mala-malam tertentu setelah orang meninggal, misalnya 3 hari,
7 hari, dan 100 hari bahkan sampai 1 tahun dan 1000 hari dalam memperingati
kepergian orang yang meninggal pada hari hari tertentu yang disebutkan itu maka
dilaksankan acara tahlilan dan yasinan tersebut dalam presfektif C. Geertz
merupakan objek fisik dari suatu agama yang berupaka tindakan yang dilakukan
oleh manusia dalam bentuk pristiwa yang terjadi.
No comments:
Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya