Al-Hallaj: sebuah tulisan persembahan Herbert W. Mason (bukan resensi)

 Al-Hallaj seorang sufi fenomenal dengan keyakinannya tentang eksistensi Tuhan. Al-Hallaj, ia lahir dengan nama Husain Ibn Mansur dari orang tua yang mualaf yang berasal dari Persia dan kakeknya seorang beragama Zoroaster. Nama lengkapnya adalah Abu 'Abdallah alHusayn ibn Mansur ibn Mahamrna al- Baydawi al-Baghdadi al-Hallaj. Pada buku ini disebutkan bahwa, Al-Hallaj, sufi yang hidup pada abad ke-tiga (barangkali Hijriah?), dalam keyakinannya ia melibatkan keseluruhan dalam aktivitasnya dengan realitas-Nya. Ia berbeda dengan kesadaran kolektif masyarakat sekitarnya tentang eksistensi Tuhan. Ia secara sadar mengatakan dengan tegas kehadiran dirinya sebagai transenden, melampaui kemampuan manusia untuk mengetahui dan melakukan.

Pernyataannya tentu saja menggemparkan masyarakat sekitarnya, dan ditanggapi dengan sangat serius. Beberapa sudut pandang dalam fenomena sufi Al-Hallaj menyebutkan bahwa ia adalah ancaman politik, selanjutnya dianggap sebagai ancaman bagi ortodoksi Muslim (oleh ibn Taymiyah pada 1328 M), bahkan sebagai kekasih Tuhan yang tertinggi (oleh Rumi pada 1273 M).

https://images.routledge.com/common/jackets/crclarge/978070070/9780700703111.jpg

Herbert W. Mason dalam buku ini menuliskan Kisahnya adalah salah satu dari kepercayaan diri manusia yang tidak tertekuk dan ketidakegoisan spiritual, kebanyakan dari kita tidak akan mampu mencapai derajat tersebut. Semua persepsi rasional dan kritisnya didasarkan pada keyakinan buta yang sama di mana Tuhannya adalah seluruh pendengaran, penglihatannya, pikiran dan napasnya.

Akibat dari keimanan terhadap Tuhan yang ia yakini, Al-Hallaj menerima konsekuensi yang berat dari masyarakat sekitarnya hingga dieksekusi mati. Semua siksaan yang ia terima ia balas dengan doa, tanpa ia berbica apapun. Hidupnya yang penuh khayalan adalah tragedi manusia dengan tatanan tertinggi dan paling menakutkan, di mana kita yang melihatnya dari jauh melalui teks dan rasa keseriusan dramatis berbagi dalam teror dan kerinduan (kepada Tuhan). Al-Hallaj mati dengan rela, bahkan dengan gembira, sampai-sampai ia menari dengan rantai yang mengikatnya dari penjara ke tempat eksekusi, di sepanjang lapangan terbuka Baghdad ke tempat eksekusi kematian.

Saya pernah membaca tentang keterangan “ana al-Haq”-nya Al-Hallaj (saya lupa sumbernya) bahwa, setan iri kepadanya karena, setan ketika dahulu mengatakan “ana al-Haq” di surga (ketika disuruh sujud kepada Adam As) itu yang menyebabkan ia dikeluarkan dari surga dan dikutuk sebagai musuh manusia, akan tetapi al-Hallaj, ucapan itu malah yang membuatnya menjadi wali/kekasih Allah. Kemudian al-Hallaj menjawab, bahwa ada perbedaan esensi dalam “ana al-Haq” dirinya dengan yang disebutkan setan. Yakni, ketika ia mengucapkan “ana al-Haq”, ia meniadakan dirinya dan meng-Ada-kan hanya Allah, sedangkan setan sebaliknya. Dalam keterangan lain juga disebutkan, Al-Hallaj menjadikan setan sebagai hamba terbaik Tuhan. Karena, setan tidak sudi bersujud/menghamba kepada selain Allah.

 

No comments:

Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya

Powered by Blogger.