Kelas online sebagai kontekstualisasi dari makna belajar di kelas


oleh: Atin Suhartini

Sejak sekitar awal 2020 pembelajaran sudah dilakukan secara dalam jaringan (daring). Pembelajaran daring atau online adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah sebagai solusi agar siswa dapat tetap belajar dan menerapkan social distancing. Pembelajaran online dilaksanakan di rumah masing-masing siswa, pertemuan pembelajarannya menggunakan beberapa aplikasi diantaranya zoom meeting dan google meet dari laptop dan handphone.

Suka tidak suka dan mau tidak mau, kelas online itu solutif. Kenapa kelas online itu solutif? Karena siswa dan guru masih bisa belajar dan melakukan interaksi pembelajaran dengan tetap merasa aman dari situasi pandemi. Selain itu para guru menjadi lebih kreatif dalam penyajian materi kepada siswa. Guru menjadi melek teknologi.

Dengan kelas online jangkauan belajar menjadi lebih luas. Jika kita perhatikan, pembelajaran online dapat melahirkan kreatifitas yang sebelumnya terasa mustahil dilakukan. Contohnya lahirlah web seminar (webinar) yang dapat diikuti oleh peserta dari banyak daerah. Dengan tetap berada di daerah masing-masing dapat menggapai ilmu dari para ahli melalui webinar ini.

Seperti ikan dalam arus, selalu bergerak agar tidak mati. Dengan perubahan situasi pandemi ini seperti arus, dan kita ibarat ikan yang bergerak. Jika kita hanya diam saja, kita akan mati. Oleh karena itu, kita harus bergerak menciptakan inovasi agar selalu hidup dan bertahan dalam situasi, bahkan kalau bisa kita harus kalahkan. Situasi pandemi ini kita harus menangkan, dengan tetap sehat dan belajar

Belajar harus tetap terlaksana meskipun situasi pandemi. Sangat mewajarkan jika kita mengeluhkan situasi pandemi, tetapi jangan sampai kita kalah dan menyerah begitu saja. Manusia adalah makhluk yang dianugerahi akal untuk berpikir, maka ciptakanlah solusi-solusi sebagai alternatif. Teknologi saat ini dapat mewadahi dan memfasilitasi belajar kita dan sangat menolong dalam situasi pandemi.

PERENUNGAN MAKNA PROSES BELAJAR DENGAN KACAMATA PAUL RICEOUR

Kali ini kita akan melihat fenomena kelas online dari hermeneutikanya riceour. Paul Ricoeur termasuk tokoh terdepan hermeneutika modern. Ia dilahirkan di Valance, Prancis Selatan pada 1913 dan meninggal pada 2005 lalu. Pemikiran Riceor dilatarbelakangi oleh filsafat deskrates, fenomenologi, Husserl eksistensialisme dan psikoanalisis.

Mengutip penjelasan Zygmunt Bauman dalam bukunya pak Faiz yang berjudul hermeneutika al-qur’an, bahwa hermeneutika itu “sebagai upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kabur, remang-remang, dan kontradiktif, yang menimbulkan kebingungan bagi pendengar atau pembaca”. Hermeneutika tidak terlepas dari teks, penulis dan pembaca.

Dalam ngaji filsafat Masjed Jendral Sudirman (MJS) edisi Paul Riceour, Pak Faiz menjelaskan bahwa dalam hermeneutikanya Riceour. Kehidupan ini selalu menemukan ketegangan (gap), dalam ketegangan melahirkan kehendak, kehendak memerlukan keputusan dan keputusan melahirkan aksi. Nah aksi inilah yang disebut sebagai wacana yang akan menjadi “teks”

Riceour dalam bukunya Interpretation theory menerangkan bahwa memahami tidak terbatas hanya pada teks, melainkan melibatkan suatu diskursus filosofis yang ditimbulkan oleh teks. Gampangnya menurut Riceour, memahami adalah merenungkan makna dan menyingkap makna melalui refleksi.

Dalam teks yang dimaksud Riceour ini telah bermuatan penjelasan objektif dan subjektif. Penjelasan structural (objektif) termuat dalam teks agar kita memahami maksud dari si penulis (sebagai makna asli). Di sini kita harus mengandaikan psikologi mental dalam sisi si penulis teks. Dan penjelasan hermeneutis (subjektif) termuat dalam teks agar teks selalu berkembang, alias tidak pernah mati. Tidak fokus pada objektif karena akan menyebabkan terjebak di masa lalu (romantisisme) tidak juga fokus pada subjektif karena akan menyebabkan kehilangan makna aslinya. Teks harus bermuatan keduanya baik objektif maupun subjektif.

Dalam penjelasan objektif diperlukan jarak atau pemisahan (distansi) antara teks dan makna. Belajar di kelas sebagai teks jika dipisahkan makna dengan konteksnya, maka akan diperoleh proses belajarnya lah sebagai makna, sedangkan pelaksanaannya di dalam kelas adalah sebegai sebuah konteks. Sebenarnya asalkan makna aslinya tidak berubah, yaitu proses belajar maka pelaksanannya di mana saja (sebagai konteks) itu tidak akan menjadi masalah, karena konteks dapat berubah.

Adanya jarak/pemisahan (distansiasi) dalam penjelasan objektif, maka teks bersifat otonom. Ketika teks lahir maka akan terjadi keterpisahan antara teks dan si penulis sendiri, maksud si penulis, dan konteksnya. Itulah dari sisi si penulis. Sehingga teks dapat dipahami oleh masing-masing pembaca sesuai dengan latarbelakang dan tujuannya. Proses pemahaman teks dari sisi si pembaca inilah disebut apropriasi.

Distansiasi melahirkan otonom dan Apropriasi melahirkan horison baru (pemahaman dari sisi pembaca), dan gabungan dari keduanya akan melahirkan pemaknaan baru. Pemaknaan baru tersebut kemudian akan menjadi teks. Teks dipahami oleh pembaca sebagai horison baru dan dikontekstualisasikan kemudian lahir lagi menjadi sebuah teks. Tiga hal tersebut akan terus berdialektika sehingga terus lahir pemaknaan baru.

Sebelum terjadi pandemi proses pembelajaran dilakukan di dalam kelas, itulah teksnya. Langkah pertama dalam memahami teks disebut semantik yaitu pembaca perlu memahami simbol-simbol yang ada dalam teks. Di sini berarti pembaca harus memahami proses belajar itu apa? dan belajar di kelas itu apa?. Setelah diketahui maka dari sinilah diperoleh maknanya. Dalam pemahaman ini bahasa menjadi kuncinya

Langkah kedua disebut refleksif atau fenomenologis, memahami teks dari perspektif pelakunya. Penulis sebagai pelaku (atau yang mengalami) pembelajaran di dalam kelas. Pemahaman ini karena “perspektif” bisa berbeda dengan pemaknaan semantik sebelumnya. Oleh karenanya di sinilah teks bersifat otonom karena telah terjadi pemisahan antara teks dan penulis. Setiap pelaku dapat memaknai teks dengan keadaan mental psikologisnya. Apakah dalam kelas itu merasa senang, bosan, atau kemungkinan lainnya.

Setelah itu, sifat teks yang otonom tersebut selanjutnya dapat dipahami dengan langkah ketiga yaitu pemahaman ontologi. Langkah ketiga teks oleh pembaca dapat dimaknai secara berbeda sesuai dengan latar belakang dan tujuan si pembaca. Pada langkah ketiga inilah perlu adanya kontekstualisasi. Pembelajaran di dalam kelas jika tetap dilakukan di masa pandemi maka akan menimbulkan madhorot, sehingga pembelajaran online adalah kontekstualisasi dari makna proses belajar di situasi pandemic hari ini.

Teks-konteks dan kontekstualisasi yang terus berdialektika disebut triadik. Pembelajaran kelas online merupakan hasil dari kontekstualisasi teks belajar di dalam kelas yang kemudian akan Kembali menjadi teks. Teks tersebut akan dibaca, dipisahkan makna dan konteksnya, serta direkontekstualisasikan yang akan melahirkan teks baru. Keadaan itu akan terus menerus tiada henti. Proses dialektika antara teks-konteks dan kontekstualisasi akan terus mengembangkan ilmu dan melahirkan kreatifitas-kreatifitas yang berguna bagi manusia.

Setelah pandemi berakhir kemungkinan akan dilaksanakan Kembali pembelajaran di dalam kelas namun tidak akan menghilangkan pembelajaran online. Bahkan saat ini telah dilakukannya pembelajaran hybrid, yakni ada yang belajar di dalam kelas dan ada yang online. Hal tersebut saya kira juga sebagai bentuk rekontekstualisasi karena pandemi ini mulai menurun dan dapat dikendalikan.

 

 

 

No comments:

Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya

Powered by Blogger.