Pecinta adalah Perindu

Kerinduan itu dapat tercipta dari jarak. Yang manakah dan yang seperti apakah yang disebut dengan jarak itu? Jarak adalah dimulai dari satu titik di mana saja, bisa di bumi maupun di langit atau diantara keduanya. Jarak juga bisa disebutkan menjadi titik hati seseorang dengan titik hati kekasihnya. Jarak sepasang kekasih yang sedang melakukan Long Distance Relationship (LDR) dapat menimbulkan kerinduan karena jarangnya perjumpaan. Namun dengan teknologi yang canggih LDR bukan lagi masalah besar karena dapat berkomunikasi dengan melalui handphone, dilengkapi fitur media sosial canggih yang membuat sepasang kekasih tetap dapat berbincang bertatap wajah. Tentu dengan teknologi kerinduan sepasang kekasih dapat sedikit terobati.


Kerinduan adalah keindahan yang selanjutnya dapat menyiksa. Obat kerinduan tiada lain adalah hanya dengan perjumpaan. Kerinduan itu didasari oleh rasa cinta dan tercipta karena jarak. Rindu akan terasa indah karena ada cinta didalamnya, dan akan terasa sangat manis dalam perjumpaan. Jika kerinduan tidak menemukan obatnya –perjumpaan- maka rindu akan menjadi penyakit fisik dan jiwa yang akan membuat si perindu menderita dan tersiksa. Dikisahkan dalam dunia percintaan sufi, sepasang kekasih yang bernama Qais dan Layla. Kekasih yang saling mencintai namun nasib tidak merestui persatuan mereka sehingga kerinduan menjangkiti keduanya. Layla yang terkurung dalam kamarnya tentu sangat menderita karena tidak dapat berjumpa dengan Qais kekasihnya, begitu juga dengan Qais yang karena kecintaannya kepada Layla ia menjadi gila dan digelari Majnun. Majnun melanglang buana dalam kecintaan dan kerinduaanya kepada Layla yang tak kunjung terobati hingga akhir hayatnya.


Rindu adalah pengejawantahan dari cinta. Karena seorang pecinta selalu menginginkan berada dekat dengan kekasihnya. Hanya sang pecinta yang dapat menganalisis kerinduan, karena tidak mungkin ada orang lain yang mampu merasakan gairah tentang hal-hal kecil dan remeh menjadi keagungan perasaan selain sepasang kekasih. Kerinduan tidak dapat dirasakan selain oleh si pecinta. Cinta membuat kekasih meng-ada dibalik segala, bahkan keti-ada-an kekasih pun menjadi –ada karena cinta.

Perindu adalah seorang pecinta sejati. Rindu berarti mengkhayalkan atau bahkan melihat kekasih pada apapun yang ada di hadapannya. Pecinta pastilah seorang perindu, karena seperti yang telah dikatakan bahwa pecinta selalu menginginkan berada dekat dengan kekasihnya. Sehingga apa yang dilihatnya nampak juga wajah kekasihnya. Dalam kitab Al-Hikam Ibnu Athoilah dikatakan bahwa Allah SWT –kekasih sejati setiap umat manusia- selalu ada dalam pandangan dan penglihatannya. Hal demikian dapat terjadi karena saking cintanya Ibn Athoilah kepada sang maha kekasih, terlebih ia adalah seorang waliyullah sehingga matanya adalah mata Allah SWT, kakinya adalah kaki Allah SWT –jangan diartikan secara fisik-. Begitulah seorang pecinta selalu sekaligus seorang perindu, sebagaimana seorang ibu yang selalu merindukan anak-anaknya, seorang waliyullah yang selalu ingin bersama Rabb-nya dan pecinta selalu ingin bersama kekasihnya.


Pecinta adalah seorang hamba bagi kekasihnya. Disabdakan dalam sebuah hadits oleh Nabi Saw bahwa seseorang adalah budak (hamba) bagi yang dicintainya. Demikian yang disabdakan oleh Nabi Saw selaras dengan cinta itu buta, bahkan disebutkan jika cinta tidak membuatmu gila maka ia belum apa-apa. Cinta memang buta dan membuat gila, oleh karenanya seseorang rela melakukan apa saja untuk kekasihnya –orang-orang saat ini menyebutnya dengan “bucin”-. Namun cinta adalah penyiksaan yang membahagiakan bahkan bersifat candu, maka dari itu kita harus memilih kekasih yang benar agar kita tidak terjebak dalam cinta yang mengenaskan. Imam Ghazali memberikan kita nasihat agar kita memilih cinta yang benar, seperti ini: jika kamu mencintai keindahan; ketahuilah yang maha indah itu Allah SWT. Jika kamu mencintai kepintaran; ketahuilah yang maha pintar itu Allah SWT. Nasihat dari Imam Ghazali mudah diingat namun begitu sulit dilakukan, tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Lakukanlah pelan-pelan, sedikit demi sedikit sesuai kemampuan kita seperti yang telah dinasehatkan oleh Rumi dalam syairnya “Tempuhlah Jalan Itu”.

No comments:

Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya

Powered by Blogger.