Minat Membaca Dan Pemahanan Makna Dalam Sebuah Karya Sastra -R. Roza Prantika

Kegemaran membaca tak hanya membuat anak-anak paham banyak ilmu, tapi juga bisa menumbuhkan kesenangan dan kepuasan diri. Membaca untuk kesenangan terbukti berpengaruh kuat pada pengembangan kosakata, dan membaca menjadikan kita faham akan sebuah makna yang tertulis disebuah teks ini jika terjadi  maka akan menimbulkan kesenangan tersendiri apabila kita mengerti. Tapi tak jarang banyak orang yang beranggapan bahwa membaca sebuah hal yang membosankan dan monoton tidak menyenangkan baik dari kalangan pelajar bahkan mahasiswa.

Bahkan saya saja masih labil untuk membaca apabila jika mood sedang baik atau sedang ingin membaca itu bisa lumayan lama menghabiskan waktu dengan membaca dan hal ini harus diperbaiki dan wajib meningkatkan minat membaca. Karena membaca bisa meningkatkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas untuk Negara terlebih lagi jika menjadi seorang guru harus memiliki minat membaca yang baik karena seorang guru adalah akar dari pendidikan dan pencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas tidak hanya seorang guru tapi juga siswa yang di ajar memiliki visi dan misi yang sama untuk akan mendapatkan titik temu yang sama untuk mencerdaskan anak didik, dan memahami makna yang terselubung dalam sebuah karya sastra atau buku. 

Pada konteks pencapaian kemampuan membaca, peran faktor internal siswa sangat menentukan. Faktor internal ini harus menjadi perhatian serius dalam proses belajar membaca pada siswa. Seperti siswa harus terjaga sikap mereka dalam belajar membaca. Tertanamkannya budaya membaca secara mandiri dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan mendasar dalam perkembangan diri mereka. 

Di sinilah peran dan konstribusi faktor pengajaran guru bahasa dalam membantu kesuksesan belajar membaca pada siswa. Membaca sebenarnya sangat bermanfaat untuk kehidupan seseorang untuk mendapatkan pemahaman makna yang baru untuk dirinya bahkan orang lain seperti itu maka perlunya minat membaca yang cukup tinggi. Di Indonesia sendiri Indek Kegemaran Membaca (IKM) menunjukkan peningkatan pada tahun 2016 IKM Indonesia mencatat skor 26,5 dan menjadi 55,74 pada tahun 2020. Menempati rangking ke 62 dari 70 negara. 

Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019. Minat membaca di Indonesia masih rendah tapi semenjak pandemi minat membaca mulai meningkat dikarenakan kegiatan dilakukan dirumah dan untuk mengisi waktu luang dengan membaca buku hal ini senada dengan ungkapan oleh perpustakaan Nasional pada rapat dengan Komisi X DPR RI pada tanggal 16 April 2020 bahwa selama pandemi perpustakaan digital IPunsnas per pekan naik 130 persen.

 

Pandangan Hermeneutika Paul Ricoeur

Karya sastra diciptakan tidak hanya sekadar untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami maknanya. Dari sudut pandang pengarang, karya sastra tercipta untuk dipublikasikan dan disebarkan dengan harapan isi dan pesan karya sastra itu dapat dipahami. Dari sudut pandang pembaca, karya sastra untuk dibaca dan ditelaah dengan harapan isi dan pesan karya sastra itu dapat dinikmati dan dipahami maknanya. salah satu lapisan komunikasi dalam memahami karya sastra adalah pengarang, teks, dan pembaca. 

Dalam hal ini, pengarang dan pembaca adalah dua kutub proses komunikasi sastra yang sedang berperan dalam menghadapi karya sastra (teks sastra). Teks sastra merupakan seperangkat tanda atau lambang yang ditransmisikan melalui suatu saluran (puisi, prosa, atau drama) kepada pembaca. Kode yang dipilih pengarang harus diketahui dan sebagian diketahui oleh pembaca sehingga memungkinkan pembaca untuk mengenali tanda-tanda tekstual dan mengaitkan makna dengan materi teks. 

Meski tidak berbilang baru, hermeneutika sebagai pendekatan atau metode kajian teks sastra dipandang tepat untuk membantu pembaca dalam usaha menelaah dan menafsir makna suatu teks sastra. Salah satu teori dan metode interpretasi yang dipandang signifikan dalam memahami makna teks sastra adalah hermeneutika. Dasar analisis hermeneutika, adalah (1) memastikan isi dan makna kata, kalimat, teks, dan sebagainya. dan (2) menemukan instruksiinstruksi yang terdapat dalam bentuk simbolis.

Ricour menjelaskan bahwa karya pemikiran (penulis, termasuk teks sastra) yang terdiri atas penguraian makna tersembunyi dari makna yang terlihat, pada tingkat makna yang tersirat di dalam makna literer. Menurut Ricour simbol dan interpretasi menjadi konsep-konsep yang saling berkaitan. Interpretasi muncul saat makna jamak berada dan di dalam interpretasikanlah pluralitas makna termanifestasikan. 

Menurut Ricour ada tiga ciri utama bahasa sastra yang perlu diperhatikan bagi seorang penelaah sastra yang menggunakan metode hermeneutika, yaitu (1) bahasa sastra bersifat simbolik, politik, dan konseptual, (2) dalam bahasa sastra, pasangan rasa dan kesadaran menghasilkan objek estetik yang terikat pada dirinya, dan (3) bahasa sastra berpeluang menerbitkan pengalaman fiotinal dan pada hakikatnya lebih kuat dalam menggambarkan ekspresi kehidupan. Paul Ricoeur sendiri memandang bahwa pemahaman dan penafsiran bukanlah semata kegiatan yang berkenaan dengan bahasa, melainkan juga sebagai tindakan pemaknaan dan penafsiran.

Tidak ada orang membaca sebuah teks dengan maksud memahami isinya yang tidak melakukan penafsiran dan pemaknaan selama proses pembacaan berlangsung. Paul Ricoeur menyatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi. Bila terdapat pluralitas makna, maka di situ interpretasi dibutuhkan. Apalagi jika simbol-simbol dilibatkan, interpretasi menjadi penting sebab terdapat makna yang multilapis. Paul Ricoeur mengatakan bahwa keseluruhan filsafat itu adalah interpretasi terhadap interpretasi. Oleh karena itu, filsafat pada dasarnya adalah sebuah hermeneutik, yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna.

Setiap interpretasi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat-tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusastraan. Simbol membuat kita sebagai pembaca berpikir sehingga simbol itu sendiri menjadi kaya makna dan kembali kepada maknanya yang asli. Demikian pandangan Paul Ricoeur yang kemudian mengarahkan filsafatnya kepada hermeneutika, terutama pada interpretasi, yaitu penafsiran dan pemahaman terhadap teks (textual exegesis). Tentang pendapat Paul Ricoeur yang menyatakan bahwa pemahaman merupakan cara berada atau cara menjadi dan bukan cara mengetahui atau cara memperoleh pengetahuan ini, Paul Ricoeur hanya ingin menyentakkan kesadaran kita bahwa hermeneutika adalah sebuah metode yang sejajar dengan metode di dalam sains.

Dengan membaca membuka tabir yang terselubung dalam pikiran kita bahwa dengan menginterprestasikan makna dan simbol simbol yang terdapat pada karya sastra menjadikan kita kaya akan pemahaman dalam memahami banyak hal untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik. Banyak membaca maka semakin banyak makna makna yang terdapat didalam teks dapat dimengerti. Meningkatkan minat membaca tentu tugas kita bersama dalam menyelaraskan tujuan yang sama ini agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan bersama. Mari tingkatkan minat membaca dari sekarang mulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat yang bisa kamu jangkau. Semangat untuk kita para anak muda Indonesia dalam memajukan Negara tercinta ini.

No comments:

Silahkan masukan kritik dan saran untuk penulis dengan kata-kata yang santun ya

Powered by Blogger.